Sejarah Desa Padangdangan

Desa Padangdangan merupakan salah satu desa di wilayah Kecamatan Pasongsongan Kabupaten Sumenep dengan luas wilayah keseluruhan 1132 Ha .Berdasarkan kisah dari sesepuh yang turun-temurun desa padandangan berumur ribuan tahun. Nama  Padandangan sendiri diambil karena pada suatu hari di desa tersebut terdapat banyak burung dandang yang dalam bahasa Indonesia berarti burung Gagak, banyaknya burungn Gagak membuat warga sekitar terheran-heran serta  meresahkan  karena burung Gagak yang suka mencuri telur peternakan warga sekitar. Banyaknya burung Gagak yang berputar-putar dilangit desa membuat semua warga menangah ke atas atau dalam bahasa Madura sendiri disebut dangak. Dengan terjadinya peristiwa tersebut warga sekitar mulai menamakan desa tersebut dengan sebutan Padandangan

Sejarah 6 dusun di desa Padandangan
1. Billa Mabuk
Nama dusun Billa Mabuk di ambil dari kata Billa yang berarti buah. Pada zaman dahulu di dusun ini terdapat banyak pohon Billa yang sebagaimana getah buah Billa  biasa digunakan untuk lem, sedangkan  daging nya bisa dikonsumsi saking lezatnya rasa buah Billa sampai warga sekitar mabuk dikarenakan banyaknya mengkonsumsi buah Billa. Karena kejadian itulah sampai saat ini dusun tersebut dinamakan dusun BillaMabuk
2. Duwak Buter
Nama dusun Duwak Buter diambil dari nama buah asli madura yang banyak tumbuh di tempat tersebut yaitu buah DuwakButer yang merupakan salah satu jenis buah Duwak yang paling manis dari jenis lainnya dengan bentuk kecil dan tidak memiliki biji.
3. Dabada
Nama Dabada sendiri diambil dikarenakan warga sekitar dusun tersebut sebagian besar orang kaya atau orang berada sehingga dusun tersebut dinamai dengan dusun Dabada.
4. DungGadung
Dunggadung merupakan desa produksi di desa Padandangan dengan produk andalan kripik Gadung. Dikisahkan dahulu buah gadung merupakan buah yang tidak dapat dikonsumsi dikarenakan beracun atau membuat orang mabuk dan dusun DungGadung lah yang bisa membuat trobosan buah gadung bisa dikonsumsi dan dijadikan kripik dengan proses mencuci ke laut dan diolah sehingga menjadi kripik yang terkenal sampai saat ini
5. Teppoh
Nama Teppoh berarti Rapuh dalam bahasa Indonesia. Nama Teppoh sendiri berawal dari rasa penasaran warga sekitar cara membuat pedang atau keris yang berbahan dasar besi yang padat bisa dibentuk berbagai bentuk darisitulah dapat dipelajari bahwa semua bahan keras dapat lunak jika kita dapat mengolahnya. Sehingga dusun tersebut dikenal dengan nama tepoh sampai saat ini.
6. Malaka
Dusun Malaka sendiri berada di pesisir pantai yang sebagaimana tempat mendarat orang  Bugis saat ke pulau Madura, dan orang Bugis tersebut melewati selat Malaka untuk ke pulau Madura sehingga dusun tersebut dinamakan Malaka.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar